Kearifan Lokal

apem

Kirab apem sewu adalah acara ritual syukuran masyarakat Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah yang digelar setiap bulan haji (bulan Zulhijah-kalender penanggalan Islam). Ritual syukuran itu diadakan untuk mengenalkan Kampung Sewu sebagai sentra produksi apem kepada seluruh masyarakat sekaligus menghargai para pembuat apem yang ada di sana. Selain itu, upacara ritual syukuran ini pun dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena desa dan tempat tinggal mereka terhindar dari bencana. Mengapa begitu? Menurut Ketua Pelaksana Kirab Apem Sewu, Pak Hadi Sutrisno, letak Kampung Sewu Solo ini adanya di pinggir Sungai Bengawan Solo, termasuk daerah rawan banjir. Makanya, masyarakat mensyukurinya. Tradisi apam sewu berawal dari amanah yang disampaikan Ki Ageng Gribig kepada seluruh warga untuk membuat 1.000 kue apam dan membagikannya kepada masyarakat sebagai wujud rasa syukur. Sejalan dengan berkembangnya zaman, maka ritual kirab apem sewu ini diawali dengan kirab budaya warga Solo yang memakai pakaian adat Solo, seperti kebaya, tokoh punakawan, dan kostum pasukan keraton. Anak-anak sekolah juga menjadi peserta kirab dengan menampilkan marching band SD, atraksi Liong (naga), serta aneka pertunjukan tarian tradisional dan teater. 1.000 kue apem yang sudah disusun menjadi gunungan itu diarak dari lapangan Kampung Sewu menuju area sekitar kampung sepanjang dua kilometer. Acara kirab berlangsung selama satu hari, yang dimulai dengan prosesi penyerahan bahan makanan (uba rampe) pembuat kue apam dari tokoh masyarakat Solo kepada sesepuh Kampung Sewu di Lapangan Kampung Sewu, Solo.
 

Tradisi DugderanNama Dugderan sendiri berasal dari “Dug” yang berarti suara pukulan bedug, dan “Der” yang berarti suara dari ledakan meriam. Tradisi Dugderan merupakan perayaan yang menandai awal bulan Ramadhan yang sudah dilaksanakan turun menurun sejak masa pemerintahan Bupati Kyai Raden Mas Tumenggung Purbaningrat. Selama seminggu sebelum Ramadhan, akan diadakan pasar kaget yang juga dinamakan pasar Dugderan di daerah Pasar Johar. Pasar tersebut menjual berbagai macam barang, mulai dari peralatan masak, busana muslim, sampai mainan anak tradisional yang tumpah ruah. Dijual pula Warak Ngendhog yang berarti Warak bertelur. Warak Ngendhog merupakan mahluk khayalan yang menjadi maskot kota semarang dan menjadi mainan favorit anak-anak sedari dulu.

maulud

Ribuan warga berebut hasil bumi berupa makanan yang dibentuk dalam dua pasang gunungan dalam perayaan Grebeg Maulid di halaman Masjid Agung Surakarta di Solo, Jawa Tengah. Ribuan orang itu datang dari berbagai daerah, selain dari kota Solo sendiri. Mereka sekaligus memanfaatkan hari libur untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini.

Dua pasang gunungan yang menjadi lambang jaler (laki-laki) dan estri (perempuan) diperebutkan setelah dikirab. Perhelatan ini menandai puncak tradisi Sekaten yang diselenggarakan Keraton Kasunanan Surakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kirab berlangsung dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Masjid Agung, dan setelah dilakukan doa bersama dua pasang gunungan hasil bumi langsung diperebutkan warga yang hadir di halaman masjid.

sumber : https://travel.tempo.co/read/1148018/maulid-nabi-warga-berebut-hasil-bumi-dalam-grebeg-maulud-solo/full&view=ok

Sekretariat

Kantor: Jl. Sriwijaya No. 29A
Semarang, Jawa Tengah
Telepon: 024-8317963
Fax: 024-8440479

Kunjungan Web

Hari Ini
Kemarin
Minggu ini
Akhir minggu
Bulan ini
Akhir bulan
Total
6301
7606
42999
42999
95156
221987
7388757

Perkiraan Hari Ini
7680


IP Anda:3.227.3.146
© 2017, Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah
perpusdajateng@yahoo.com